Kegairahan mengisahkan Junghuhn


Posted by Yunas Santhani Azis on November 12, 2010

Pembaca Yth,

Suatu hari, Editor Foto Reynold Sumayku menyampaikan idenya dengan begitu antusias. Dia ingin menyusun kisah tentang Franz Wilhelm Junghuhn. Rencana pun disusun. Bergabungnya penulis JJ Rizal yang kuat dalam isu sejarah membuat diskusi penyusunan artikel tersebut kian bersemangat.

Tim kami menghadapi tantangan yang menggairahkan: perpaduan teks, foto, grafis, dan tata letak seperti apa yang bisa mewakili kiprah dan sosok Junghuhn dalam jumlah halaman terbatas?

Junghuhn adalah seorang generalis yang begitu menonjol di semua bidang yang dia tekuni. Dia seorang naturalis, pemerhati geologi yang teliti, dan pencatat budaya yang tekun.

Tahun ini kita memperingati 200 tahun kelahiran Junghuhn. Sumbangan apa yang telah dia wariskan, inspirasi apa yang dia sampaikan? Kami berharap, kisah Junghuhn di majalah NGI edisi November ini dapat menjawabnya.


Posted in Uncategorized | 1 Comment »

Elegi untuk Ibu (1) Pulang Sendirian


Posted by Tantyo Bangun on October 26, 2009

*Rangkaian Tulisan mengenang Ibu Budiarti Isman, Ibunda Tantyo Bangun yang wafat pada 17 Oktober 2009,

Bulan Haji tahun 1989 di kantor Jawa Pos Biro Jakarta, tulisan tentang ekspedisi penelusuran goa di Jawa Tengah dari teman-teman divisi caving Mapala UI mendekati paragraf-paragraf akhir. Namun tulisan itu tak pernah terselesaikan. Kabar tentang Bapak datang menerpa. Beliau tidak kembali dari perjalanan menunaikan ibadah haji. Meninggal di Madinah.

Mendengar kabar itu cukup berat dan menyedihkan, namun kami telah terbiasa dengan “ketidakhadiran” Bapak. Pertama, beliau memang berdinas di Angkatan Laut, sehingga sering berdinas luar dan melakukan perjalanan. Kami juga pernah berpisah beberapa tahun saat beliau tugas di Jakarta dan kami bersama ibu di Surabaya. Selain karena tugasnya, Bapak juga sering tidak terasa kehadirannya karena —dibandingkan ibu yang lumayan senang berkata-kata— sangat pendiam.

Rasa sedih yang mendalam justru ketika kami menunggu kehadiran ibu kembali dari tanah suci. Saya yang masih bisa menahan, akhirnya harus melepaskan tangis sedih ketika menyaksikan ibu harus kembali seorang diri dari tanah suci. Bapak yang berangkat dengan segar bugar dan sebetulnya tidak terlalu berniat untuk naik haji, wafat di sana dalam usia 62 tahun.

Kondisi keluarga kami saat itu sebetulnya tidak terlalu berat bagi ibu untuk menghadapinya seorang diri. Saya sudah di tahun ke 5 kuliah, dan praktis biaya kuliah dan sebagian biaya hidup seperti untuk biaya jalan-jalan naik gunung, sudah mencari sendiri. Anti, adik sekaligus kembaran saya sudah lama bekerja sambil kuliah. Mas Pri yang sulung juga sudah mandiri. Mas Didik baru diterima bekerja di BPN (Badan Pertanahan Nasional). Hanya Mbak Ida saja yang masih berkutat dengan Tehnik Kimia di Yogya.

Saya rasa, ibu lebih berat dalam menghadapi hidup karena mendadaknya kepergian bapak saja. Ibu dengan optimismenya sudah menyiapkan perjalanan haji yang ditabungnya selama bertahun-tahun. Hasil tumpeng demi tumpeng, ayam kodok demi ayam kodok —menu favorit dari kateringnya— dikumpulkannya untuk berhaji.

Bapak, di sisi lain, baru mulai sholat rutin selepas ia pensiun. Tidak jelas apakah karena saat itu waktu luangnya lebih banyak, atau memang ia merasa ingin lebih tenteram saja. Yang jelas keimanannya rasanya lebih tebal semenjak ia purnawirawan.

Kalau buat saya keimanan Bapak tidak ada hubungannya dengan kebaikan beliau. Tanpa harus rutin pergi ke mesjid, tanpa harus menggantungkan tasbih di kaca spion mobilnya: Bapak adalah salah satu orang terjujur di dunia yang pernah saya kenal.

Pada bulan-bulan terakhir menjelang naik haji, mungkin karena anjuran teman-temannya, ibu mulai rajin mendesak Bapak untuk pergi bersama. Ibu kalau sudah bertekad, biasanya akan terwujud. Bapak enggan karena ia bicara jujur tidak punya uang. Dan memang saat itu secara finansial ibulah yang menghidupi keluarga setelah bapak pensiun. Akhirnya ada Pak Handoko Suratmin —panglima Bapak semasa di Tanjung Pinang— yang membantu sebagian biaya naik haji. Dan di bulan-bulan terakhir persiapan haji itu, akhirnya Bapak mendaftar.

Untuk persiapan fisik, bapak tidak punya masalah. Ia tidak merokok, tidak makan berlebihan, atau yang aneh-aneh. Kebiasaan hidupnya pun teratur, tidur pada waktunya dan bangun pada waktunya. Olahraganya untuk orang di atas umur 60 tahun juga masih di atas rata-rata.

Hampir tiap hari, Bapak berlari atau berjalan cepat keliling Lapangan Golf Pangkalan Jati. Walau lapangan golf itu milik angkatan laut, Bapak tidak pernah bisa bermain di sana karena gajinya tidak akan cukup —baik semasa perwira aktif sampai kolonel, apalagi saat pensiun sebagai laksamana pertama—. Ia pernah dihadiahi seperangkat alat golf yang menjadi hiasan gudang. Karena itu agak mengherankan juga kalau angkatan laut membangun lapangan golf, karena seorang kolonel pun tak akan mampu membiayai permainan itu —kalau hanya mengandalkan gaji—.

Dengan persiapan cukup singkat, akhirnya Bapak dan Ibu berangkat haji. Saya yang mengantar mereka hingga Wisma Haji Pondok Gede tidak memiliki firasat apapun akan kepergian itu. Keduanya sehat, keduanya bersemangat.

Namun, cerita ibu akan kepergian Bapak membuat kami paham mengapa beliau bisa sakit dan meninggal di sana. Lagi-lagi, Bapak selalu memikirkan kepentingan orang lain, terkadang di atas kepentingan dirinya. Ibu bercerita bagaimana bapak selalu membantu orang-orang lain, sehingga ibu sempat kesal juga dibuatnya. Karena kurang memerhatikan diri sendiri, Bapak tidak sadar kalau beliau mengalami dehidrasi. Dalam kondisi seperti itu, ia terkena diare. Kombinasi keduanyalah yang membuat beliau berpulang.

Banyak orang yang ingin pergi ke Mekah dengan cita-cita meninggal di sana. Bapak yang jelas bukan salah satu dari orang-orang itu. Tetapi beliau yang terpilih.


Posted in Uncategorized | 16 Comments »

Kembalikan hutan orangutan!


Posted by Tantyo Bangun on October 23, 2009

Pembaca Yth,

Saat tengah tahun kelas 2 SD saya pindah dari Tanjung Pinang di Pulau Bintan, ke Surabaya. Hari pertama sekolah saya langsung ulangan pelajaran Bahasa Jawa. Sehari-hari saya berbahasa Melayu di Riau tiba-tiba berhadapan dengan Bahasa Jawa, alhasil nilai rapor bahasa daerah saya merah waktu itu.

Kita, manusia yang memiliki kecerdasan cukup, tergagap-gagap untuk menyesuaikan diri pada keadaan yang baru. Bagaimana pula dengan orangutan peliharaan yang sejak kecil diberi makan oleh manusia, kemudian harus mencari makan sendiri di alam liar? Inilah sebetulnya tantangan rehabilitasi dan reintroduksi orangutan di Indonesia. Namun kita harus sadar bahwa masalah rehabilitasi orangutan adalah masalah hilir dari pelestarian spesies.

Masalah hulunya adalah pelestarian hutan alam, karena hutan di mana orangutan bisa hidup dengan bebas adalah hutan yang sehat dan lestari.


Posted in Uncategorized | 2 Comments »

Dua kutub konservasi


Posted by Tantyo Bangun on September 1, 2009

Pembaca Yth,

Cerita kura-kura leher ular dan anggrek “Tien Suharto” di majalah edisi September 2009 berada pada dua kutub. Sang kura-kura karena terlalu digemari, ditangkap berlebihan dan nyaris punah di habitat aslinya. Sementara sang anggrek—walaupun dinamai menurut nama mantan ibu negara kita—menuju kepunahan karena ketidakpedulian manusia.

Kita melihat kecenderungan ini dalam konservasi alam ala Indonesia yang analog dengan model konservasi ala film Jurassic Park. Teknologi didewakan dan spesies yang sudah punah dihadirkan lagi. Padahal, konservasi alam tidak semata-mata mengenai populasi sebuah spesies, melainkan mengenai ekosistemnya sebagai suatu kesatuan.

Sudah saatnya kita menghentikan pemikiran konservasi yang melihat spesies terancam punah sebagai komoditas berharga karena langka semata. Sudah selayaknya melihat keberadaan mereka secara utuh bersama habitatnya menjadi perhatian utama kembali.


Posted in Uncategorized | 6 Comments »

Krisis air tanah: mari memulai dari yang kecil


Posted by Tantyo Bangun on August 10, 2009

Pembaca Yth,

Menjelang musim kemarau, saya selalu memeriksa apakah selang di rumah masih cukup baik untuk bisa mengalirkan air ke tetangga-tetangga yang membutuhkan. Lokasi kami sama, kedalaman sumur pompanya juga tidak terlalu beda, hanya halaman kami yang berbeda. Beberapa pohon besar dan sumur resapan, itulah yang membedakan.

Namun, hal itu menjadi penting bila kita bicara air tanah. Bagaimana kita memerlukan sumber daya air kita akan berdampak langsung terhadap diri kita.

Kembali ke situasi warga lingkungan saya, kalikan beberapa ratus ribu, maka kita berhadapan dengan situasi air (tanah) di Jakarta yang kami tuturkan dalam Edisi Agustus NGI. Masalahnya akan meraksasa. Namun, sumbangan pemecahan masalah dari masing-masing kita sebagai warga juga akan berarti—”sekadar” menanam pohon atau membuat sumur resapan—jika kita semua mau mulai dari diri sendiri dan melakukannya sekarang juga.


Posted in Uncategorized | 2 Comments »

Hikmah dari masa silam


Posted by Tantyo Bangun on July 2, 2009

Pembaca Yth,

Saya adalah salah satu penggemar Museum Geologi di Bandung. Saya menyambanginya mulai dari bersama teman-teman, bersama kekasih, hingga bersama putri saya. Tiap kali saya selalu terkagum-kagum di bagian yang memamerkan kehidupan dari masa-masa geologi yang berbeda dari masa geologi kita, manusia modern.

Dan tiap kali pula saya semakin sadar, seperti juga kesimpulan tulisan mengenai satwa purba Indonesia pada National Geographic Indonesia edisi Juli 2009, bahwa yang kita saksikan di museum geologi itu adalah cerminan masa silam yang bisa kita ambil hikmahnya untuk masa kini.

Hal yang terutama adalah tidak menjadi antroposentris. Sebagai spesies yang termasuk nomor buncit di masa-masa geologi Bumi ini, kita seharusnya tahu diri untuk menjaga tingkah laku di tengah-tenagh alam raya ini dengan memeliharanya dan tidak semena-mena memanfaatkan secara berlebihan apalagi merusaknya.


Posted in Uncategorized | 1 Comment »

Bengawan Solo kini dan dulu


Posted by Tantyo Bangun on May 29, 2009

Pembaca Yth,

Bengawan Solo telah akrab menemani sejak masa kanak-kanak. Tiap kali ikut ke pasar di Bojonegoro bersama nenek, saya menyaksikannya dengan takjub di tepiannya. Saat itu mata kanak-kanak saya hanya melihat Bengawan Solo sebagai tempat bermain penuh kenangan.

Kini alurnya tercemari, pasirnya digerus, sementara lumpur terus mengendapi dan airnya diperebutkan oleh para petani di musim kemarau—dan disumpahi bila melimpah di musim hujan. Pandangan yang menyeluruh bahwa Bengawan Solo itu mempunyai hulu, tengah, dan hilir yang masing-masing harus dijaga fungsinya masih belum dipahami.

Mungkin di sini pandangan masa kanak-kanak lebih berguna, bahwa Bengawan Solo tetaplah harus dirawat dan dicintai, sebagai salah satu sumber kehidupan utama manusia sepanjang alirannya.


Posted in Uncategorized | 6 Comments »

Dialektika karst


Posted by Tantyo Bangun on April 24, 2009

Pembaca Yth,

Kabut permukaan tanah belum lagi terangkat ketika kami terbang di atas Sentul mengarah ke selatan. Dari udara rasa rindu muncul melihat gundukan-gundukan karst di wilayah Kelapa Nunggal muncul makin jelas di cakrawala.

Tempat inilah yang telah menempa saya dengan kesulitan pemanjatan di tebing-tebingnya, keindahan dan tantangan pada penelusuran goa-goanya. Namun, kali ini saya melihatnya dengan perasaan mendua antara rasa terima kasih karena telah menjadi tempat berlatih dengan rasa kecemasan akan keberlangsungan keberadaannya.

Menengok ke baratnya, berdirilah sumber kecemasan saya berupa deretan pabrik-pabrik semen yang dengan jalan akses ke bukit-bukit karst itu yang seperti berperan sebagai penghisap sumber daya alam. Di atasnya tampak pemandangan alam porak poranda karst yang habis ditambang.

Memang kita tidak bisa dengan hitam putih menyatakan bahwa eksploitasi sumber daya alam semacam yang saya saksikan itu salah. Harus diakui bahwa kita semua memanfaatkannya. Rumah saya pun memakai semen yang mungkin berasal dari tempat itu. Yang harus kita pahami bersama adalah bagaimanapun industri semen ada aturannya, demikian juga pengelolaan dan pelestarian kawasan karst juga memiliki aturan yang sama. Untuk tahap awal sebaiknya semua pihak mengikuti aturan yang ada dulu.

Kita tentunya tidak ingin kawasan kediaman presiden di Cikeas kekurangan air gara-gara kawasan karst Kelapa Nunggal yang menjadi sumber cadangan air di daerah itu rusak.


Posted in Uncategorized | Tagged: , | 13 Comments »

Editorial April 2009


Posted by Firman Firdaus on April 6, 2009

Pembaca Yth,

Di tengah terpaan angin dingin di jalur pendakian Cibodas-Cibeureum malam itu kami berjongkok-jongkok menyaksikan kehidupan unik. Keindahan itu tersembunyi di sudut-sudut batu, di tepian sungai atau berdiam di ujung-ujung daun. Mata mereka berbinar dalam gelap, postur tubuh mungil dengan pose unik, wajah jenaka ketika disorot sinar lampu senter.

Namun, kejenakaan alami itu sekarang dalam ancaman. Saat kami mengabadikan katak-katak pegunungan itu, di saat yang sama wabah jamur pembunuh secara perlahan tapi pasti menyerang mereka. Yang menyedihkan sebetulnya bukanlah serangan jamur itu sendiri—tiap makhluk hidup tentu memiliki penyakitnya masing-masing.

Yang memerihatinkan adalah rendahnya dukungan terhadap para peneliti yang terus berjuang untuk menyelamatkan golongan amfibi ini. Mereka mengupayakan makna yang lebih besar daripada kelestarian golongan katak, yaitu kehidupan itu sendiri apapun bentuknya.

TANTYO BANGUN
Editor in Chief NGM Indonesia


Posted in Uncategorized | 8 Comments »

Editorial Maret 2009


Posted by Tantyo Bangun on February 27, 2009

Pada peluncuran Atlas Nasional Indonesia awal Februari yang lalu terasa sekali ada kelegaan. Pasalnya, semenjak Indonesia merdeka belum pernah sekalipun diterbitkan atlas nasional setelah atlas Indonesia terakhir diterbitkan Belanda pada tahun 1938. Pertama-tama tentunya kita harus memberikan apresiasi terhadap Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal).

Di era yang serba berbagi dan saling berhubungan seperti sekarang, kehadiran atlas dalam format besar bak sebuah portofolio atas peta dalam format digital yang lebih ringkas dan interaktif. Namun kesadaran spasial yang pertama-tama bukan dibentuk oleh alat. Kesadaran spasial tidak akan terbentuk di depan layar komputer atau telepon genggam. Kesadaran spasial sejatinya akan tumbuh bila kita menjelajah, mengenali lingkungan di mana kita dibesarkan dan menghargai alam tempat kita hidup.

TANTYO BANGUN
Editor in Chief NGM Indonesia


Posted in Uncategorized | 3 Comments »