*Rangkaian Tulisan mengenang Ibu Budiarti Isman, Ibunda Tantyo Bangun yang wafat pada 17 Oktober 2009,
Bulan Haji tahun 1989 di kantor Jawa Pos Biro Jakarta, tulisan tentang ekspedisi penelusuran goa di Jawa Tengah dari teman-teman divisi caving Mapala UI mendekati paragraf-paragraf akhir. Namun tulisan itu tak pernah terselesaikan. Kabar tentang Bapak datang menerpa. Beliau tidak kembali dari perjalanan menunaikan ibadah haji. Meninggal di Madinah.
Mendengar kabar itu cukup berat dan menyedihkan, namun kami telah terbiasa dengan “ketidakhadiran” Bapak. Pertama, beliau memang berdinas di Angkatan Laut, sehingga sering berdinas luar dan melakukan perjalanan. Kami juga pernah berpisah beberapa tahun saat beliau tugas di Jakarta dan kami bersama ibu di Surabaya. Selain karena tugasnya, Bapak juga sering tidak terasa kehadirannya karena —dibandingkan ibu yang lumayan senang berkata-kata— sangat pendiam.
Rasa sedih yang mendalam justru ketika kami menunggu kehadiran ibu kembali dari tanah suci. Saya yang masih bisa menahan, akhirnya harus melepaskan tangis sedih ketika menyaksikan ibu harus kembali seorang diri dari tanah suci. Bapak yang berangkat dengan segar bugar dan sebetulnya tidak terlalu berniat untuk naik haji, wafat di sana dalam usia 62 tahun.
Kondisi keluarga kami saat itu sebetulnya tidak terlalu berat bagi ibu untuk menghadapinya seorang diri. Saya sudah di tahun ke 5 kuliah, dan praktis biaya kuliah dan sebagian biaya hidup seperti untuk biaya jalan-jalan naik gunung, sudah mencari sendiri. Anti, adik sekaligus kembaran saya sudah lama bekerja sambil kuliah. Mas Pri yang sulung juga sudah mandiri. Mas Didik baru diterima bekerja di BPN (Badan Pertanahan Nasional). Hanya Mbak Ida saja yang masih berkutat dengan Tehnik Kimia di Yogya.
Saya rasa, ibu lebih berat dalam menghadapi hidup karena mendadaknya kepergian bapak saja. Ibu dengan optimismenya sudah menyiapkan perjalanan haji yang ditabungnya selama bertahun-tahun. Hasil tumpeng demi tumpeng, ayam kodok demi ayam kodok —menu favorit dari kateringnya— dikumpulkannya untuk berhaji.
Bapak, di sisi lain, baru mulai sholat rutin selepas ia pensiun. Tidak jelas apakah karena saat itu waktu luangnya lebih banyak, atau memang ia merasa ingin lebih tenteram saja. Yang jelas keimanannya rasanya lebih tebal semenjak ia purnawirawan.
Kalau buat saya keimanan Bapak tidak ada hubungannya dengan kebaikan beliau. Tanpa harus rutin pergi ke mesjid, tanpa harus menggantungkan tasbih di kaca spion mobilnya: Bapak adalah salah satu orang terjujur di dunia yang pernah saya kenal.
Pada bulan-bulan terakhir menjelang naik haji, mungkin karena anjuran teman-temannya, ibu mulai rajin mendesak Bapak untuk pergi bersama. Ibu kalau sudah bertekad, biasanya akan terwujud. Bapak enggan karena ia bicara jujur tidak punya uang. Dan memang saat itu secara finansial ibulah yang menghidupi keluarga setelah bapak pensiun. Akhirnya ada Pak Handoko Suratmin —panglima Bapak semasa di Tanjung Pinang— yang membantu sebagian biaya naik haji. Dan di bulan-bulan terakhir persiapan haji itu, akhirnya Bapak mendaftar.
Untuk persiapan fisik, bapak tidak punya masalah. Ia tidak merokok, tidak makan berlebihan, atau yang aneh-aneh. Kebiasaan hidupnya pun teratur, tidur pada waktunya dan bangun pada waktunya. Olahraganya untuk orang di atas umur 60 tahun juga masih di atas rata-rata.
Hampir tiap hari, Bapak berlari atau berjalan cepat keliling Lapangan Golf Pangkalan Jati. Walau lapangan golf itu milik angkatan laut, Bapak tidak pernah bisa bermain di sana karena gajinya tidak akan cukup —baik semasa perwira aktif sampai kolonel, apalagi saat pensiun sebagai laksamana pertama—. Ia pernah dihadiahi seperangkat alat golf yang menjadi hiasan gudang. Karena itu agak mengherankan juga kalau angkatan laut membangun lapangan golf, karena seorang kolonel pun tak akan mampu membiayai permainan itu —kalau hanya mengandalkan gaji—.
Dengan persiapan cukup singkat, akhirnya Bapak dan Ibu berangkat haji. Saya yang mengantar mereka hingga Wisma Haji Pondok Gede tidak memiliki firasat apapun akan kepergian itu. Keduanya sehat, keduanya bersemangat.
Namun, cerita ibu akan kepergian Bapak membuat kami paham mengapa beliau bisa sakit dan meninggal di sana. Lagi-lagi, Bapak selalu memikirkan kepentingan orang lain, terkadang di atas kepentingan dirinya. Ibu bercerita bagaimana bapak selalu membantu orang-orang lain, sehingga ibu sempat kesal juga dibuatnya. Karena kurang memerhatikan diri sendiri, Bapak tidak sadar kalau beliau mengalami dehidrasi. Dalam kondisi seperti itu, ia terkena diare. Kombinasi keduanyalah yang membuat beliau berpulang.
Banyak orang yang ingin pergi ke Mekah dengan cita-cita meninggal di sana. Bapak yang jelas bukan salah satu dari orang-orang itu. Tetapi beliau yang terpilih.